Metode berasal dari bahasa Latin “Meta” yang berarti melalui dan “Hodos” yang berarti jalan atau ke atau cara ke. Dalam bahasa Arab metode disebut “Thariqah” artinya jalan, cara, sistem atau ketertiban dalam mengerjakan sesuatu. Sedangkan menurut Istilah ialah suatu sistem atau cara yang mengatur suatu cita-cita. Kata “Metode” disini diartikan secara luas, karena mengajar adalah salah satu bentuk upaya mendidik, maka metode yang dimaksud disini mencakup juga metode mengajar.
Dalam literatur Ilmu Pendidikan, khususnya Ilmu Pengajaran dapat ditemukan banyak metode mengajar. Adapun metode mendidik selain dengan cara mengajar tidakterlalu banyak dibahas oleh para ahli. Sebabnya, mungkin metode mengajar lebih jelas, lebih tegas, obyektif bahkan universal, sedangkan metode mendidik selain mengajar lebih subyektif, kurang jelas, kurang tegas lebih bersifat seni dari pada sebagai sains. Metode itu banyak sekali dan akan bertambah terus sejalan dengan kemajuan perkembangan teor-teori pengajaran. Tak dapat dibayangkan akan sejauhmana perkembangan metode-metode tersebut. Sekarang ini metode-metode itu jumlahnya lebih dari 16. Metode-metode mengajar ini disebut metode umum. Disebut metode umum karena metode tersebut digunakan untuk mengajar pada umumnya. Biasanya studitentang metode mengajar umum disebut dengan menggunakan istilah metode pengajaran. Disamping itu, ada pula metode pendidikan Islam adalah jalan atau cara yang dapat ditempuh untuk menyampaikan bahan atau materi pendidikan Islam kepada anak didik agar terwujud kepribadian muslim, karena pendidikan Islam merupakan bimbingan secara sadar dari pendidik (orang dewasa) kepada anak yang masih dalam proses pertumbuhannya berdasarkan norma-norma yang Islami agar berbentuk kepribadiannya menjadi kepribadian muslim.
Diantara ayat-ayat mengenai metode pengajaran adalah sebagai berikut :
1.Surat Al-Maidah Ayat 67
“Hai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan jika kamu tidak kerjakan (apa yang diperintahkan itu berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya. Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir”.
Penjelasan :
Nabi Muhammad adalah teladan di dalam alam nyata. Mereka memperhatikan beliau, sedangkan beliau adalah manusia seperti mereka lalu melihat bahwa sifat-sifat dan daya-daya itu menampakan diri didalam diri beliau. Mereka menyaksikan hal itu secara nyata didalam diri seorang manusia. Oleh karena itu hati mereka tergerak dan perasaan mereka tersentuh. Mereka ingin mencontoh rosul, masing-masing sesuai dengan kemampuannya dan sesuai dengan kesanggupannya meningkat lebih tinggi. Semangat mereka tidak mengendur, perhatian mereka tidak dipalingkan, serta tidak membiarkannya menjadi impian kosong yang terlalu muluk, karena mereka melihatnya dengan nyata hidup di alam nyata, dan menyaksikan sendiri kepribadian itu secara konkrit bukan omong kosong di alam khayal.
Oleh karena itu rosululloh s.a.w merupakan teladan terbesar buat umat manusia, beliau adalah seorang pendidik seorang yang memberi petunjuk kepada manusia dengan tingkah lakunya sendiri terlebih dahulu sebelum dengan kata-kata yang baik, dalam hal ini al-quran dan hadits menyebutkannya.
Melalui beliau allah membina manusia yang dikatakan allah s.w.t :
Kami adalah umat terbaik yang dipersembahkan buat manusia, mengajak manusia berbuat baik dan mencegah mereka berbuat tidak baik serta beriman kepada Allah (QS Al-Imran : 110)
Teladan itu akan tetap lestari selama langit dan bumi ini lestari, kepribadian Rosululloh s.a.w sesungguhnya bukanlah hanya teladan buat suatu masa, satu generasi satu bangsa, satu golongan atau satu lingkungan tertentu. Ia merupakan teladan universal buat seluruh manusia dan seluruh generasi.
Beliau diutus buat seluruh makhluk dan seluruh manusia kapan pun ia lahir, buat seluruh generasi dan buat seluruh tempat. Teladan yang abadi, yang tidak akan habis-habis berkurang atau rusak.
Pantaslah orang-orang yang bertemu dengan Rosululloh dan melihat langsung pribadinya yang mulia itu, telah mengisi penuh roh, hati, otak, peraaan, dan tubuh mereka. Dan melihat pribadinya yang mulia itu sungguh merupakan terjemahan konkrit dari Al-Qur’an. Oleh karena itu mereka mengimani agama yang secara nyata mereka lihat terwujud secara konkrit itu.
Semuanya itu sudah merupakan ketetapan Allah, dan ketetapannya itu sudah terealisasi dengan diturunkanya Al-Qur’an.
Islam berpendapat, sebagaimana telah kita singgung didalam permulaan pasal ini, bahwa suri tauladan adalah tehnik pendidikan yang paling baik, dan seorang anak harus memperoleh teladan dari keluarga dan orang tuanya agar ia semenjak kecil sudah menerima norma-norma Islam dan berjalan berdasarkan konsepsi yang tinggi itu. Dengan demikian Islam mendasarkan metodologi pendidikannya kepada sesuatu yang akan mengendalikan jalan kehidupan dalam masyarakat. Maka bila suatu masyarakat Islam terbentuk, masyarakat itu akan mengisi anak-anaknya dengan norma-norma Islam melalui suri tauladan yang diterapkan dalam masyarakat dan terlaksana didalam keluarga dan oleh orang tua.
2. Surat Al-‘Araf Ayat 176-177
“Dan kalau kami menghendaki, sesungguhnya kami tinggikan (derajatnya) dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkan lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga). Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat kami. Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berfikir”. (176).
“Amat buruklah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat kami dan kepada diri mereka sendirilah mereka berbuat dzalim”. (177)
Penjelasan :
((ولوشئنا لرفعنه بها) Sesungguhnya kami tinggikan (derajatnya) dengan ayat-ayat itu dan menjadikan kalian kedudukan yang tinggi melalui pengamalan ayat-ayat tersebut, akan tetapi dia cenderung kepada dunia dan harta, lebih mencintai dunia dan mementingkan kenikmatan dunia.
واتبع هواه Bagi orang-orang yang belum dihadapkan dengan kenikmatan akhirat, belum diberikan petunjuk dengan ayat-ayat Allah, lahir bathinnya belum diberikan kesempurnaan dan belum bisa mensyukuri nikmat Allah dengan adanya keridhoan-Nya. Perumpaman orang yang seperti itu bagaikan seekor anjing yang lagi hina yaitu anjing yang apabila dihalau maka dia mengulurkan lidahnya dan apabila dibiarkan maka dia mengulurkan lidahnya juga, dan ini merupakan sifat yang jelek dan hina yang diserupakan dengan seekor anjing. Andaikan ada sifat orang yang serupa dengan seekor anjing ini merupakan kejadian yang sangat aneh/asing, yaitu merupakan bagi orang-orang hampa akan pengetahuan mengenai ayat-ayat Allah. Dan perumpamaan yang aneh/asing ini adalah perumpamaan bagi orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Allah, dan sombong kepada Allah.
Pada waktu manusia merasa bahagia karena adanya mukjizat Al-qur’an yang menampakan kejadian-kejadian orang Yahudi yang tidak menyukai adanya Nabi Muhammad SAW. Wahai rasul, ceritakanlah kepada orang Yahudi tentang orang yang diserupakan dengan seekor anjing karena mendustakan ayat-ayat Allah agar mereka dapat menjauhi jalan yang sesat dan kembali untuk meraih rahmat Allah, mensyukuri nikmat Allah dan mempelajari nama-nama kebesaran Allah. Jikalau mereka dipanggil oleh Allah, mereka menjawab akan tetapi mereka tidan menaati-Nya, karena hanya taat kepada selain Allah.
لعلهم يتفكرونMaka takutlah dengan adanya perumpamaan-perumpamaan yang seperti itu, karena Allah lebih mengetahui sifat-sifat umat Nabi Muhammad SAW dikarenakan beliau adalah manusia yang paling benar untuk diikuti dan dapat menolong manusia dari kesesatan.
ساء مثلا Perumpamaan orang-orang yang mendustakan dan menentang ayat-ayat Allah, diserupakan dengan seekor anjing yang tidak mempunyai apa-apa hanya memikirkan makanan dan hawa nafsunya saja. Akhlak orang-orang yang dzalim karena penuh dengan kedustaan maka Allah akan mendzalimi mereka dengan menjauhkan diri mereka dari petunjuk Allah. Dalam sebuah hadits telah disebutkan orang diserupakan dengan seekor anjing dan telag ditetapkan dalam Soheh Kitab As-Sittah. Dari Ibnu Abbas sesungguhnya Rasulullah SAW telah bersabda :”Bukankah orang yang hina kembali kepada kekotoran/kehinaan bagaikan seekor anjing yang mengeluarkan muntahnya”.
Amat buruknya orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Allah diumpamakan dengan seekor anjing yang mengeluarkan muntahnya penuh dengan kotoran yang sangat menjijikkan.
3. Surat Ibrahim Ayat 24-25
4. Surat An-Nahl Ayat 125
Dalam literatur Ilmu Pendidikan, khususnya Ilmu Pengajaran dapat ditemukan banyak metode mengajar. Adapun metode mendidik selain dengan cara mengajar tidakterlalu banyak dibahas oleh para ahli. Sebabnya, mungkin metode mengajar lebih jelas, lebih tegas, obyektif bahkan universal, sedangkan metode mendidik selain mengajar lebih subyektif, kurang jelas, kurang tegas lebih bersifat seni dari pada sebagai sains. Metode itu banyak sekali dan akan bertambah terus sejalan dengan kemajuan perkembangan teor-teori pengajaran. Tak dapat dibayangkan akan sejauhmana perkembangan metode-metode tersebut. Sekarang ini metode-metode itu jumlahnya lebih dari 16. Metode-metode mengajar ini disebut metode umum. Disebut metode umum karena metode tersebut digunakan untuk mengajar pada umumnya. Biasanya studitentang metode mengajar umum disebut dengan menggunakan istilah metode pengajaran. Disamping itu, ada pula metode pendidikan Islam adalah jalan atau cara yang dapat ditempuh untuk menyampaikan bahan atau materi pendidikan Islam kepada anak didik agar terwujud kepribadian muslim, karena pendidikan Islam merupakan bimbingan secara sadar dari pendidik (orang dewasa) kepada anak yang masih dalam proses pertumbuhannya berdasarkan norma-norma yang Islami agar berbentuk kepribadiannya menjadi kepribadian muslim.
Diantara ayat-ayat mengenai metode pengajaran adalah sebagai berikut :
1.Surat Al-Maidah Ayat 67
يا أيها الرسول بلغ ما أنزل اليك من ربك وان لم تفعل فما بلغت رسالته والله يعصمك من الناس ان الله لا يهدى القوم الكفرين
Artinya :“Hai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan jika kamu tidak kerjakan (apa yang diperintahkan itu berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya. Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir”.
Penjelasan :
Nabi Muhammad adalah teladan di dalam alam nyata. Mereka memperhatikan beliau, sedangkan beliau adalah manusia seperti mereka lalu melihat bahwa sifat-sifat dan daya-daya itu menampakan diri didalam diri beliau. Mereka menyaksikan hal itu secara nyata didalam diri seorang manusia. Oleh karena itu hati mereka tergerak dan perasaan mereka tersentuh. Mereka ingin mencontoh rosul, masing-masing sesuai dengan kemampuannya dan sesuai dengan kesanggupannya meningkat lebih tinggi. Semangat mereka tidak mengendur, perhatian mereka tidak dipalingkan, serta tidak membiarkannya menjadi impian kosong yang terlalu muluk, karena mereka melihatnya dengan nyata hidup di alam nyata, dan menyaksikan sendiri kepribadian itu secara konkrit bukan omong kosong di alam khayal.
Oleh karena itu rosululloh s.a.w merupakan teladan terbesar buat umat manusia, beliau adalah seorang pendidik seorang yang memberi petunjuk kepada manusia dengan tingkah lakunya sendiri terlebih dahulu sebelum dengan kata-kata yang baik, dalam hal ini al-quran dan hadits menyebutkannya.
Melalui beliau allah membina manusia yang dikatakan allah s.w.t :
كنتم خير امة اخرجت للناس تأمرون بالمعروف وتنهون عن المنكر وتؤمنون بالله
Artinya :Kami adalah umat terbaik yang dipersembahkan buat manusia, mengajak manusia berbuat baik dan mencegah mereka berbuat tidak baik serta beriman kepada Allah (QS Al-Imran : 110)
Teladan itu akan tetap lestari selama langit dan bumi ini lestari, kepribadian Rosululloh s.a.w sesungguhnya bukanlah hanya teladan buat suatu masa, satu generasi satu bangsa, satu golongan atau satu lingkungan tertentu. Ia merupakan teladan universal buat seluruh manusia dan seluruh generasi.
Beliau diutus buat seluruh makhluk dan seluruh manusia kapan pun ia lahir, buat seluruh generasi dan buat seluruh tempat. Teladan yang abadi, yang tidak akan habis-habis berkurang atau rusak.
Pantaslah orang-orang yang bertemu dengan Rosululloh dan melihat langsung pribadinya yang mulia itu, telah mengisi penuh roh, hati, otak, peraaan, dan tubuh mereka. Dan melihat pribadinya yang mulia itu sungguh merupakan terjemahan konkrit dari Al-Qur’an. Oleh karena itu mereka mengimani agama yang secara nyata mereka lihat terwujud secara konkrit itu.
Semuanya itu sudah merupakan ketetapan Allah, dan ketetapannya itu sudah terealisasi dengan diturunkanya Al-Qur’an.
Islam berpendapat, sebagaimana telah kita singgung didalam permulaan pasal ini, bahwa suri tauladan adalah tehnik pendidikan yang paling baik, dan seorang anak harus memperoleh teladan dari keluarga dan orang tuanya agar ia semenjak kecil sudah menerima norma-norma Islam dan berjalan berdasarkan konsepsi yang tinggi itu. Dengan demikian Islam mendasarkan metodologi pendidikannya kepada sesuatu yang akan mengendalikan jalan kehidupan dalam masyarakat. Maka bila suatu masyarakat Islam terbentuk, masyarakat itu akan mengisi anak-anaknya dengan norma-norma Islam melalui suri tauladan yang diterapkan dalam masyarakat dan terlaksana didalam keluarga dan oleh orang tua.
2. Surat Al-‘Araf Ayat 176-177
ولوشئنا لرفعنه بها ولكنه أخلد الى الآرض واتبع هواه فمثله كمثل الكلب ان تحمل عليه يلهث أو تتركه يلهث ذلك مثل القوم الذين كذبوا بأيتنا فاقصص القصص لعلهم يتفكرون -176
ساء مثلا القوم الذين كذبوا بأيتنا وأنفسهم كانوا يظلمون -177.
Artinya :ساء مثلا القوم الذين كذبوا بأيتنا وأنفسهم كانوا يظلمون -177.
“Dan kalau kami menghendaki, sesungguhnya kami tinggikan (derajatnya) dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkan lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga). Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat kami. Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berfikir”. (176).
“Amat buruklah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat kami dan kepada diri mereka sendirilah mereka berbuat dzalim”. (177)
Penjelasan :
((ولوشئنا لرفعنه بها) Sesungguhnya kami tinggikan (derajatnya) dengan ayat-ayat itu dan menjadikan kalian kedudukan yang tinggi melalui pengamalan ayat-ayat tersebut, akan tetapi dia cenderung kepada dunia dan harta, lebih mencintai dunia dan mementingkan kenikmatan dunia.
واتبع هواه Bagi orang-orang yang belum dihadapkan dengan kenikmatan akhirat, belum diberikan petunjuk dengan ayat-ayat Allah, lahir bathinnya belum diberikan kesempurnaan dan belum bisa mensyukuri nikmat Allah dengan adanya keridhoan-Nya. Perumpaman orang yang seperti itu bagaikan seekor anjing yang lagi hina yaitu anjing yang apabila dihalau maka dia mengulurkan lidahnya dan apabila dibiarkan maka dia mengulurkan lidahnya juga, dan ini merupakan sifat yang jelek dan hina yang diserupakan dengan seekor anjing. Andaikan ada sifat orang yang serupa dengan seekor anjing ini merupakan kejadian yang sangat aneh/asing, yaitu merupakan bagi orang-orang hampa akan pengetahuan mengenai ayat-ayat Allah. Dan perumpamaan yang aneh/asing ini adalah perumpamaan bagi orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Allah, dan sombong kepada Allah.
Pada waktu manusia merasa bahagia karena adanya mukjizat Al-qur’an yang menampakan kejadian-kejadian orang Yahudi yang tidak menyukai adanya Nabi Muhammad SAW. Wahai rasul, ceritakanlah kepada orang Yahudi tentang orang yang diserupakan dengan seekor anjing karena mendustakan ayat-ayat Allah agar mereka dapat menjauhi jalan yang sesat dan kembali untuk meraih rahmat Allah, mensyukuri nikmat Allah dan mempelajari nama-nama kebesaran Allah. Jikalau mereka dipanggil oleh Allah, mereka menjawab akan tetapi mereka tidan menaati-Nya, karena hanya taat kepada selain Allah.
لعلهم يتفكرونMaka takutlah dengan adanya perumpamaan-perumpamaan yang seperti itu, karena Allah lebih mengetahui sifat-sifat umat Nabi Muhammad SAW dikarenakan beliau adalah manusia yang paling benar untuk diikuti dan dapat menolong manusia dari kesesatan.
ساء مثلا Perumpamaan orang-orang yang mendustakan dan menentang ayat-ayat Allah, diserupakan dengan seekor anjing yang tidak mempunyai apa-apa hanya memikirkan makanan dan hawa nafsunya saja. Akhlak orang-orang yang dzalim karena penuh dengan kedustaan maka Allah akan mendzalimi mereka dengan menjauhkan diri mereka dari petunjuk Allah. Dalam sebuah hadits telah disebutkan orang diserupakan dengan seekor anjing dan telag ditetapkan dalam Soheh Kitab As-Sittah. Dari Ibnu Abbas sesungguhnya Rasulullah SAW telah bersabda :”Bukankah orang yang hina kembali kepada kekotoran/kehinaan bagaikan seekor anjing yang mengeluarkan muntahnya”.
Amat buruknya orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Allah diumpamakan dengan seekor anjing yang mengeluarkan muntahnya penuh dengan kotoran yang sangat menjijikkan.
3. Surat Ibrahim Ayat 24-25
4. Surat An-Nahl Ayat 125



















0 komentar:
Post a Comment
Tuliskan komentar !, karena sobat berhak untuk berpendapat.